Sabtu, 19 Maret 2011

SEJARAH SINGKAT KERAJAAN BULUNGAN

Kabupaten Bulungan pada zaman dahulu adalah sebuah wilayah kesultanan, dimana kesultanan Bulungan atau Bulongan adalah kesultanan yang pernah menguasai wilayah pesisir Kabupaten Bulungan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, dan Kota Tarakan sekarang. Kesultanan Bulungan berkedudukan di desa Tanjung Palas. Kesultanan ini berdiri pada tahun 1731, dengan raja pertama bernama Wira Amir gelar Amiril Mukminin (1731–1777), dan Raja Kesultanan Bulungan yang terakhir atau ke-13 adalah Datuk Tiras gelar Sultan Maulana Muhammad Djalalluddin (1931-1958). ( sumber dari Buku Kebudayaan Kalimantan Timur )

Kamis, 17 Maret 2011

CATATAN PERJALANAN : PENDAKIAN CARSTENSZ PYRAMIDE

Mendaki Carstensz Pyramide

Rangkum dari pengalaman-pengalaman dan catatan perjalanan pendaki-pendaki yang pernah ke CARSTENSZ

Lokasi
:
Irian Jaya
Menuju Lokasi
:
Bagi pendaki gunung, mendaki jajaran pegunungan Jayawijaya dan Sudirman (Carstensz Pyramide), Irian Jaya, adalah impian. Betapa tidak, pada salah satu puncak pegunungan itu (Sudirman) terdapat titik tertinggi di Indonesia. Carstensz Pyramide (4.884 mdpl) menyimpan banyak keunikan dan tantangan. Bukan hanya karena puncaknya diselimuti salju tropis tetapi termasuk dalam deretan 7 (tujuh) puncak benua.

Jangan heran bila pendaki-pendaki papan atas kelas dunia berlomba untuk mendaki puncak tertinggi di Australasia ini. Tak kurang dari Heinrich Harrer si pendaki yang hidupnya diperankan Brad Pitt dalam Seven Years In Tibet menjadi orang pertama yang mendaki Carstensz Pyramid. Kemudian Reinhold Messner pendaki pertama yang mencapai 14 puncak di atas 8.000 meter.
Pat Morrow yang mencanangkan Carstensz Pyramid sebagai satu dari tujuh puncak di tujuh benua bumi ini. Irian itu bagian dari benua Australasia katanya. Ini mengakibat pendaki-pendaki kelas dunia berbondong-bondong mengikuti jejaknya di antaranya pendaki wanita pertama Everest Junko Tabei pernah menjamah puncak ini.
Sayang, liatnya prosedur izin yang harus dimiliki, membuat banyak pendaki harus mengurungkan niatnya untuk berekspedisi. Apalagi wilayah pegunungan tengah Irian Jaya sempat tertutup untuk pendakian sejak kasus penculikan di Mapenduma 1995 – 1996.

Izin Mendaki yang Rumit
Di kalangan pendaki gunung di Indonesia ada satir tentang pendakian gunung di Irian Jaya. ”Lebih sulit mengurus izinnya daripada mendaki gunungnya,” keluh mereka. Izin pendakian gunung – utamanya ke Carstensz Pyramide – di Irian Jaya memang rumit dan tidak jelas. Tidak ada selembar surat izin yang sah seperti misalnya pendakian di Nepal di mana pendaki diberikan semacam paspor selembar lengkap dengan foto dan keterangan izin mendaki puncak ketinggian berapa di daerah mana.
Di Nepal ketika berhasil dan bisa menyerahkan bukti pun Departemen Pariwisata yang menangani izin ini mengeluarkan surat keterangan kesuksesan pendaki. Ketidakjelasan ini – hal yang biasa terjadi selama Orde Baru – selama bertahun-tahun bertahan dengan alasan klasik, keamanan.
Galih Donikara, seorang senior Wanadri menyebutkan untuk mendaki gunung ini harus memiliki rekomendasi dari kantor Menpora, Kapolri, BIA – intelejen Indonesia, Menhutbun/PKA, PT Freeport Indonesia (PTFI).
Kalau mau lewat Tembagapura ditambah dari Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI). Itu semua harus diurus di Jakarta. Lalu di Jayapura, rekomendasi dari Bakorstranasda dan Kapolda harus dikantongi. Di Timika, rekomendasi EPO dan izin PTFI untuk fasilitas lintasan.
”Terakhir di Tembagapura, koordinasi dengan Emergency Response Group (ERG) untuk penanganan Emergency Procedur dan aparat Satgaspam untuk masalah keamanan lintasan,” jelas pendaki gunung yang sempat tergabung dalam ekspedisi Indonesia – Everest ’97 ini. Galih mencapai puncak Carstensz Pyramid bersama tim Cina pada awal tahun Millenium ini. Bersama beberapa pendaki sipil dan militer, mereka menggunakan rute Timika lewat Tembagapura untuk mencapai kemah induk.
Jika lewat Nabire, surat dari Bakorstranasda dan Polda Irian Jaya harus dilaporkan ke Polres Paniai dan Kodim Nabire, yang keduanya ada di kota Nabire. Lalu terakhir di Ilaga, semua surat rekomendasi diberikan ke Tripika setempat (Ilaga) yaitu Polsek, Koramil dan Camat.
Tapi tunggu dulu, ketiga pimpinan tersebut akan memutuskan bisa atau tidaknya pendaki meneruskan ekspedisi. Semuanya tergantung dengan situasi keamanan pada saat itu. Bila sedang tidak ada bahaya yang dapat mengancam keselamatan pendaki seperti perang suku, maka pendaki boleh segera mulai. Nah itulah daftar panjang surat rekomendasi untuk mendaki atap Indonesia itu. Rumit dan repot.

Bambang Hertadi Mas, petualang dan pesepeda jarak jauh kawakan, sempat mengurungkan niatnya untuk berekspedisi ke puncak Carstensz Pyramide, gara-gara sulitnya mengurus izin pendakian itu. Paimo, panggilan akrab Bambang, lebih memilih memanjat Gunung Kilimanjaro, di benua Afrika untuk ekspedisi tahun 1987. ”Mending sekalian ke luar (negeri), toh ongkos dan susahnya proses perizinan relatif tidak jauh berbeda,” begitu komentar Paimo waktu itu.
Sebagian besar pemandu gunung, pendaki profesional sampai kelas amatiran, harus menelan kekecewaan. Padahal menurut mereka, banyak sekali turis-turis mancanegara yang ingin menggapai salju putih di kawasan tropis. Kegamangan masalah politik bumi Cendrawasih ini juga mengganggu upaya untuk menjadikan Carstensz Pyramid dan pegunungan Sudirman sebagai tujuan wisata yang bisa jadi andalan Papua. Bagi sebagian orang, Carstensz merupakan sumber rezeki tersendiri dan punya nilai jual yang tinggi.
Kelangkaan informasi tentang kedua pegunungan itu juga menjadikan minat terhadap pendakian gunung di Irian Jaya – utamanya Carstensz Pyramide – harus surut di tengah jalan. Kecuali, bagi para pendaki yang cukup dana dan pengalaman. Tak banyak buku-buku ”keluaran” negeri sendiri yang benar-benar menceritakan nikmatnya bertualang menggapai atap Indonesia itu. Paling-paling hanyalah beberapa bentuk tulisan hasil ekspedisi ke sana. Akhirnya, pendaki-pendaki lokal harus pontang-panting mencari informasi ke beberapa perkumpulan pencinta alam ternama dan berpengalaman di negeri ini. Tapi itu mungkin tidak seberapa rumit jika dibandingkan dengan mengurus perizinannya. Sampai kapan?  Hanya kalian yang bias menjawabnya teman-teman.       

Rabu, 16 Maret 2011

MOTOR SUZUKI YANG BER BAHAN BAKAR HIDROKARBON

Suzuki Chairman and President Osamu Suzuki berpose dengan Burgman hidrogen. Uni Eropa belum lama ini sudah mengeluarkan Whole Vehicle Type Approval (WVTA) atau semacam surat izin untuk Suzuki Burgman Fuel-Cell yang menandakan kalau motor ini aman untuk digunakan di jalan umum. .
Produsen motor Suzuki menjadi pabrikan pertama di dunia yang akan menjual motor dengan bahan bakar hidrogen (fuel cell) ke Eropa. Izin untuk Suzuki Burgman Fuel-Cell dari Uni Eropa sudah keluar.

CARA MEMAHAMI DAN MENGGAMBAR GAMBAR TEKNIK

A. Mengenal Alat Menggambar Teknik
1. Kertas Gambar
a) Jenis Kertas
B
erdasarkan jenis kertasnya, kertas gambar yang dapat digunakan untuk menggambar teknik adalah:
1)   Kertas Padalarang
2)   Kertas manila
3)   Kertas Strimin
4)   Kertas roti
5)   Kertas Kalki
b) Ukuran Kertas
Ukuran gambar teknik sudah ditentukan berdasarkan standar. Ukuran pokok kertas gambar adalah A0. Ukuran A0 adalah 1 m2 dengan perbandingan 2 : 1 untuk panjang : lebar. Ukuran A1 diperoleh dengan membagi dua ukuran panjang A0. Ukuran A2 diperoleh dengan membagi dua ukuran panjang A1. Demikian seterusnya. Ukuran kertas gambar dapat dilihat pada Tabel 5.1, sedangkan perbandingan ukuran kertas gambar dapat dilihat dari Gambar 5.1.
Tabel 5.1 Kertas Gambar Berdasarkan Ukuran

Seri
Ukuran Kertas
Ukuran Garis Tepi
Kiri
Kanan
A0
1.189 x 841
20
10
A1
841 x 594
20
10
A2
594 x 420
20
10
A3
420 x 297
20
20
A4
297 x 210
15
5
A5
210 x 148
15
5

Gambar 5.1 Cara penempelan kertas di atas meja gambar non‑
magnetik
2. Pensil Gambar
Pensil adalah alat gambar yang paling banyak dipakai untuk latihan mengambar atau menggambar gambar teknik dasar. Pensil gambar terdiri dari batang pensil dan isi pensil.
a) Pensil Gambar Berdasarkan Bentuk + Pensil Batang
Pada pensil ini, antara isi dan batangnya menyatu. Untuk menggunakan pensil ini harus diraut terlebih dahulu. Habisnya isi pensil bersamaan dengan habisnya batang pensil. Gambar pensil batang dapat dilihat pada Gambar 5.2.
Gambar 1.Pensil batang
+ Pensil mekanik
Pensil mekanik, antara batang dan isi pensil terpisah. Jika isi pensil habis dapat diisi ulang. Batang pensil tetap tidak bisa habis. Pensil mekanik memiliki ukuran berdasarkan diameter mata pensil, misalnya 0,3 mm, 0,5 mm, dan 1,0 mm. Gambar pensil mekanik dapat dilihat pada Gambar 5.3.

Gamba2. Pensil mekanik
b) Pensil Gambar Berdasarkan Kekerasan
Berdasarkan kekerasannya pensil gambar dibagi menjadi pensil keras, sedang, dan lunak.
Tabel 5.2 Pensil Berdasarkan Kekerasannya
Text Box: Keras Sedang LunakText Box:  Text Box: 4HText Box: 5H 2H 3B
6H H 4B
7H F 5B
8H HB 6B
9H B 7BText Box: 3HText Box: 2BUntuk mendapatkan garis dengan ketebalan yang merata dari ujung ke ujung, maka kedudukan pensil sewaktu menarik garis harus dimiringkan 60° dan selama menarik garis, pensil sambil diputar dengan telunjuk dan ibu jari (lihat Gam bar 5. 4).
Gambar 5. 4 Cara menarik garis

3.  Rapido
Penggunaan rapido untuk menggambar dengan teknik tinta dianggap lebih praktis dari pada dengan trekpen. Gambar rapido dapat dilihat pada Gambar 5.5.
Gambar 5.5 Rapido
4.  Penggaris
Penggaris yang sering digunakan untuk menggambar teknik adalah penggaris-T dan penggaris segitiga.
Gambar 5.6 Penggaris T dan sepasang penggaris segitiga
a)    Penggaris-T
Penggaris T terdiri dari dua bagian, bagian mistar panjang dan bagian kepala berupa mistar pendek tanpa ukuran yang bertemu membentuk sudut 90°.
b)    Penggaris Segitiga
Penggaris segitiga terdiri dari satu penggaris segitiga bersudut 45°, 90°, 45° dan satu buah penggaris bersudut 30°, 90° dan 60°. Sepasang penggaris segitiga ini digunakan untuk membuat garis-garis sejajar, sudut-sudut istimewa, dan garis yang saling tegak lurus.

Gambar 5.7 Cara menggunakan penggaris-T
Gambar 5.8 Cara menggunakan penggaris segitiga
5. Jangka
Jangka adalah alat gambar yang digunakan untuk membuat lingkaran dengan cara menancapkan salah satu ujung batang pada kertas gambar sebagai pusat lingkaran dan yang lain berfungsi sebagai pensil untuk menggambar garis lingkarannya. Gambar 5.9 memperlihatkan beberapa jenis jangka.
Gambar 5.9 Jenis jangka

Kedukukan pena tarik sewaktu menarik garis sebaiknya miring 60° terhadap meja gambar, seperti Gambar 5.10. Cara menggunakan jangka ditunjukkan pada Gambar 5.11.
Gambar 5.10 Kedudukan pena tarik saat menarik garis serta Cara
menggunakan jangka
Gambar 5.11 Membuat lingkaran besar dengan alat penyambung
6. Penghapus dan Alat Pelindung Penghapus
Ada dua jenis penghapus, yaitu penghapus lunak dan penghapus keras. Penghapus lunak untuk menghapus gambar dari pensil dan penghapus keras untuk menghapus gambar dari tinta. Agar gambar yang akan dihapus tepat dan tidak menghilangkan gambar yang lain, maka digunakan plat pelindung penghapus seperti Gambar 5.13.

Gambar 5.12 Membuat lingkaran besar dengan alat
penyambung
7. Alat-Alat Penunjang Lainnya
Beberapa jenis alat penunjang gambar teknik lainnya yang kadang-kadang diperlukan dalam menggambar didasarkan sebagai berikut.
a) Busur Derajat
Busur derajat digunakan untuk mengukur dan membagi sudut. Lihat Gambar 5.14.
Gambar 5.13 Busur derajat
b)    Sablon Huruf dan Angka
Sablon huruf dan angka adalah sebuah alat gambar yang digunakan untuk menggambar huruf dan angka, agar diperoleh tulisan yang rapi dan seragam dan mengikuti standar ISO.
c)    Mal Lengkung
Mal lengkung digunakan untuk membuat garis lengkung yang tidak dapat dibuat dengan jangka. Dalam satu set mal lengkung ada 3 jenis mal, lihat Gambar 5.15.

Gambar 5.14 Mal lengkung
Gambar 5.15 Contoh penggunaan mal lengkung
d) Mal Bentuk
Untuk membuat gambar geometri dan simbol-simbol tertentu dengan cepat digunakan mal bentuk.
Gambar 5.16 Mal bentuk geometri
8. Meja Gambar
Meja gambar adalah meja yang digunakan sebagai alas menggambar. Meja gambar terdiri dari rangka meja gambar dan daun meja gambar. Tidak seperti meja biasa, meja gambar dapat diubah-ubah ketinggian dan kemiringan daun mejanya. Bahan daun meja ada bermacam-macam, yaitu: daun meja dari papan non­magnetik, papan berlapis magnet, dan kaca rayben.

Gambar 5.17 Meja gambar
9. Mesin Gam bar
Mesin gambar adalah mesin manual yang digunakan untuk memudahkan menggambar. Mesin gambar dapat menggantikan beberapa fungsi alat gambar lainnya seperti busur derajat, sepasang penggaris segitiga, dan mistar-T. Berdasarkan bentuknya ada dua jenis mesin gambar, yaitu mesin gambar rol dan mesin gambar lengan.
Gambar 5.18 Mesin gambar lengan
Gambar 5.19 Mesin gambar rol

B. Lembar Kerja
1. Alat
a.    Meja gambar
b.    Pensil gambar
c.    Sepasang penggaris segitiga
d.    Penggaris panjang 50 cm atau 60 cm
e.    Jangka
f.     Mal huruf dan angka
g.    Mal bentuk
h.    Mal lengkung
i.     Penghapus
j.    Selotip
k.      Cutter
2. Bahan
Kertas manila A3
3. Kesehatan dan Keselamatan Kerja
a.      Hati-hati menggunakan peralatan yang tajam, yaitu: cutter dan jarum jangka.
b.      Gunakan selotip berbahan kertas.
4. Langkah Kerja
a.      Tempelkan kertas manila A3 di atas meja gambar dengan selotip.
b.      Gunakan sepasang penggaris segitiga untuk membuat garis-garis sejajar horisontal dan vertikal. Panjang dan jarak antar garis sembarang. Perhatikan arah penarikan garis.
c.      Buatlah sudut-sudut 15°, 30°, 45°, 60°, 75° dan 90° dengan sepasang penggaris seg itiga. Perhatikan cara memegang penggarisnya.
d.      Gunakan jangka dengan benar untuk membuat lingkaran. Diameter lingkaran sembarang. Perhatikan dari mana mulai menarik garis dan mengakhirinya.
e.      Gunakan mal huruf-angka. Huruf dan angka yang di-mal sembarang. Perhatikan cara memegang mal dan cara menggesernya.
f.       Gunakan mal bentuk dan symbol. Cara menggunakan mal ini sama dengan cara menggunakan mal huruf-angka.
g.      Gunakan mal lengkung sesuai contoh pada lembar informasi. Tentukan dahulu titik-titik yang akan dihubungkan. Buat garis lengkungnya dengan mal lengkung. Geser-geser mal lengkung untuk mendapatkan bentuk yang paling tepat antara dua garis.

C. Membaca Gambar Teknik
1. Proyeksi Piktorial
Untuk menampilkan gambar-gambar tiga dimensi pada sebuah bidang dua dimensi, dapat kita lakukan dengan beberapa macam cara proyeksi sesuai dengan aturan menggambar. Ada beberapa macam cara proyeksi, antara lain:
1.    proyeksi piktorial dimensi,
2.    proyeksi piktorial isometri,
3.    proyeksi piktorial miring, dan
4.    perspektif.
Untuk membedakan masing-masing proyeksi tersebut, dapat kita lihat pada Gam bar 5.20.
Gam bar 5.20 Proyeksi piktorial
2. Proyeksi Isometris
a) Ciri Proyeksi Isometris
Untuk mengetahui apakah suatu gambar disajikan dalam bentuk proyeksi isometris, perlu kiranya kita mengetahui terlebih dahulu ciri dan syarat-syarat untuk membuat gambar dengan proyeksi tersebut. Adapun ciri-ciri gambar dengan proyeksi isometris tersebut sebagai berikut.
1) Ciri pada sumbu
·             Sumbu x dan sumbu y mempunyai sudut 30° terhadap garis mendatar.
·             Sudut antara sumbu satu terhadap sumbu lainnya 120°.
Untuk lebih jelasnya perhatikan Gambar 5.21.

2) Ciri pada ukuran
Panjang gambar pada masing-masing sumbu sama dengan panjang benda yang digambarkan (lihat Gambar 5.21).
Gambar 5.21 Proyeksi isometris
b) Penyajian Proyeksi Isometris
Penyajian gambar dengan proyeksi isometris dapat dilakukan dengan kedudukan normal, terbalik, atau horizontal.
1)    Proyeksi isometris dengan kedudukan normal.
Kedudukan normal mempunyai sumbu dengan sudut-sudut seperti tampak pada Gambar 5.23.
2)    Proyeksi isometris dengan kedudukan terbalik.
Mengenai hal ini dapat dilaksanakan dengan dua cara yaitu:
(a) Memutar gambar dengan sudut 180° ke kanan dan kedudukan normal,
sesuai dengan kedudukan sumbunya (lihat Gambar 5.22).
Gambar 5.22 Penyajian proyeksi isometris

(b) Mengubah kedudukan benda yang digambar untuk memperlihatkan bagian bawah benda tersebut (lihat Gambar 5.23).
Gambar 5.23 Proyeksi isometris dengan kedudukan terbalik
3) Proyeksi isometris dengan kedudukan horizontal
a.      Sebagaimana cara yang dilakukan untuk menggambar kedudukan proyeksi isometris terbalik, yaitu dengan memutar sumbu utama 180° dan sumbu normal, maka untuk kedudukan horizontal 270° ke kanan dan kedudukan sumbu norrnalnya (Iihat Gambar 5.24).
b.      Mengubah kedudukan benda, yaitu untuk memperlihatkan bagian samping kiri (yang tidak terlihat) sebagaimana terlihat pada Gambar 5.24.
Gambar 5.24 Proyeks i isometris kedudukan horizontal
3. Proyeksi Dimetris
Proyeksi dimetris mempunyai ketentuan sebagai berikut.
a.      Sumbu utama mempunyai sudut: á =7° dan â = 40° (lihat Gambar 5.25)
b.      Perbandingan skala ukuran pada sumbu x = 1 : 1, pada sumbu y = 1 : 2, dan pada sumbu z = 1 : 1.

Gambar 5.25 Proyeksi dimetris
Gambar kubus yang digambarkan dengan proyeksi dimetris di bawah ini (Gambar 5.26), mempunyai sisi-sisi 40 mm.
Keterangan:
·                                        Ukuran pada sumbu x digambar 40 mm
·                                        Ukuran gambar pada sumbu y digambar 1/2-nya, yaitu 20 mm
·                                        Ukuran pada sunbu z digambar 40 mm
Gambar 5.26 Kubus dengan proyeksi dimetris
4. Proyeksi Miring (Sejajar)
Pada proyeksi miring, sumbu x berimpit dengan garis horizontal/mendatar dan sumbu y mempunyai sudut 45° dengan garis mendatar. Skala ukuran untuk proyeksi miring ini sama dengan skala pada proyeksi dimetris, yaitu skala pada sumbu x 1:1, pada sumbu y z = 1 : 2, dan skala pada sumbu z = 1: 1 (lihat Gambar 5.27).